Rabu, 28 Januari 2009

Aku Sangat Peduli Masalah ini, ROKOK HARAM!


Bissmillah...
Sesungguhnya ALLAH tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari diri para ulama, akan tetapi ALLAH mencabut ilmu dengan matinya para ulama, sehingga jika tidak tersisa seorang ulama-pun, maka masyarakat akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin, jika mereka ditanya mereka menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari)

Sepulang dari Jogja, aku rebahan, ku klik remote control tv-ku, kubuka channel tv favoritku, yang biasa menyiarkan beberapa berita yang kadang sesuai dengan mind set dan ranah perjuanganku, tentunya untuk update pengetahuanku, dan tentunya pula untuk tetap menggelorakan semangat berjuangku. Kubaca running text pada layar kaca tvku itu, dan... ALLAHUAKBAR 3X, tanpa kuperintahkan mulut ini bertakbir, memuja keagungan ALLAH Azza wa jalla, karena di dalam running text tersebut tertulis, bahwa MUI telah memfatwakan haram rokok (walau pun terbatas, hanya untuk anak, ibu hamil, anggota MUI dan merokok di depan umum). Aku tersenyum, lelahku karena selesai dari sebuah perjalanan panjang sirna sudah. ALLAHUAKBAR...

Besoknya, aku memulai kembali aktivitas kerjaku. Aku kunjungi kampus yang telah menjadi tempat mangkalku setahun ini. Kampus tempat mengimplementasikan nilai-nilai perjuanganku atas sebuah keyakinan beberapa bulan ke belakang ini. Tempat dimana aku harus mendobrak tirani dan legitimasi yang kadang salah kaprah. Di gerbang kampus, seperti biasa, banyak para mahasiswa yang merokok (mungkin karena dosennya pun merokok juga ya... guru kencing berdiri, murid kencing berlari...) Kutegur mereka. Sebuah teguran bukan karena aku benci mereka, aku hanya benci barang yang satu itu, karena dapat menghancurkan generasi akan datang dari bangsa ini. Teguran yang sebetulnya imbas dari rasa sayangku kepada mereka, karena mereka pun saudaraku, seiman dan seakidah.... Namun apa jawaban mereka, “Lah... Pak itukan cuma fatwa... Tidak harus diikuti...”. Sebuah jawaban pinter, namun keblinger. Aku cuma tersenyum sambil berlalu aku bergumam, mungkin mereka pun mendengarnya, “kalau majelis ulama saja tidak kamu ikuti, lalu kamu akan mengikuti siapa?...”. Bukankah ulama adalah pewaris nabi?

MUI memang sebuah majelis independen, yang dapat memberikan fatwa kepada masyarakat atas sebuah kegalauan dan keresahan yang terjadi di masyarakat. Aku tidak mau memperdebatkan kredibilitas MUI, yang aku tahu, MUI adalah sebuah majelis yang terdiri dari orang-orang berilmu mumpuni dari berbagai bidang dengan basis pemikirannya adalah agama. Sebuah wadah yang sangat luar biasa, karena orang-orangnya merupakan orang luar biasa pula di bidang agama. Hanya saja, seharusnya, di negara ini, MUI adalah sebuah majelis formal yang diberikan mandat untuk memecahkan solusi bangsa, sebagai penasehat bangsa (seperti itu). Artinya, setiap tindakan bangsa, setiap peraturan yang dibuat oleh negara ini, haruslah merujuk pada fatwa yang dibuat oleh MUI.

Aku jadi sangat khawatir, sangat luar biasa khawatir, bahwa ada hadis yang berbunyi “Sesungguhnya ALLAH tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari diri para ulama, akan tetapi ALLAH mencabut ilmu dengan matinya para ulama, sehingga jika tidak tersisa seorang ulama-pun, maka masyarakat akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin, jika mereka ditanya mereka menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan ” ( HR Bukhari ). Matinya para ulama bisa saja diartikan secara ekplisit, bahwa mereka telah meninggal dunia, atau secara arti implisit, bahwa para ulama tersebut tidak lagi dihargai keberadaan dan fatwa-fatwanya. Lalu apa yang terjadi setelah itu, ya... Kita tanpa tahu menahu, tanpa ilmu pula, akan memilih pemimpin-pemimpin yang 'bodoh', yang setiap peraturan yang dibuatnya adalah peraturan yang sesat dan menyesatkan... Naudzubillah min dzalik...

Fatwa akan haram rokok ini, permasalahannya bukan pada “dukung mendukung”, banyak-banyakan basis masa. Setiap peraturan dan hukum pasti ada pro dan kontra, itu telah terjadi dari mulai Nabi Adam AS dulu. Yang ada seharusnya, bagaimana kita mensikapi, merubah prilaku, bergaya hidup baru, berpikir lebih maju, untuk mengimplementasikan hukum tersebut. Bukan menolaknya. Kalau dalam bahasa agama, seharusnya umat itu sami'na waatona (kami dengar dan kami turuti). Hukum bukan berdasarkan hak azasi. Hukum bukan ditentukan oleh keputusan suara terbanyak. Hukum adalah hak mutlak ALLAH, kita sebagai manusia adalah hanya berkewajiban untuk melaksanakannya.

Sudah terlalu banyak fakta bahwa rokok itu mudharat. Semua negara, yang mayoritas penduduknya muslim, sudah puluhan tahun lalu majelis ulamanya memfatwakan haram untuk rokok, hanya indonesia satu-satunya negara umat islam terbanyak, yang Majelis Ulamanya belum (sampai keputusan fatwa dibuat) mengharamkan rokok. Lebih dari 70 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Ada lebih Rp. 182 Trilyun per tahun yang dibakar atau Rp. 500 Milyar per hari dibakar dan Rp 50 Milyar per hari disumbang oleh penduduk miskin. 100% orang pecandu narkoba adalah perokok. Rokok mengandung 4000 zat kimia yang akan menghancurkan kesehatan generasi bangsa ini. Rokok lebih memiliki efek candu dari pada narkotika. Iklan rokok di televisi, hanya ada di Indonesia dan Nigeria. Kerugian negara untuk menanggulangi penyakit akibat rokok, telah merogoh kocek negara sampai dengan 3X lebih besar daripada penerimaan pajak cukainya. Butuh fakta apa lagi??? Subhanallah...

Setelah itu, yang ada hanyalah penolakkan. Aku berpikir, kadang kita menolak sesuatu, karena memang secara individu atau kelompok kita merasa dirugikan atau terpikirkan akan rugi. Misal, seorang mahasiswa menolak fatwa haram rokok MUI, karena mungkin hobi dia merokok, karena ada sebagian hak dia (apakah ini yang disebut hak??) yang terambil. Bagi aku, kita tidak memiliki harapan besar terhadap orang-orang yang memiliki karakter kerdil seperti itu, jangankan menuntut pengorbanan yang lebih besar untuk Islam dan perjuangan, pengorbanan akan sebuah hobi untuk, sebenarnya, kesehatan dan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya pun dia tidak mau.

Atas nama petani tembakau? Masih akan ada sejuta jalan untuk men-solve permasalahan ini yang akan ALLAH tunjukkan, jika memang kita bartaqwa dan berniat karenaNYA. Kita bisa membuat gerakan “Meminum susu” misalnya, sebagai pengganti budaya laknat “merokok”. Setiap petani tembakau, diberikan jatah satu atau dua ekor kambing atau sapi, yang dapat mereka kelola, untuk membudidayakan dan memproduksi susu. Aku yakin, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat. Memang, gerakan ini haruslan inisiatif bangsa dan negara, bukan kelompok atau individu. Jika ini berkendala, masih ada jutaan jalan yang lain, yang pasti akan diberikan oleh ALLAH...

Akhirnya, aku hanya bisa menghela napas, mengurut dada, namun tetap harus menghancurkan kemungkaran di bumi pertiwi ini. Ya ALLAH, jangan berikan kami pemimpin yang bodoh dan menyesatkan, dimana pun kami tinggal, dimana pun kami berada, dimana pun kami berjuang. Ya ALLAH, kuatkanlah iman, taqwa dan semangat ini, untuk tetap berada di dalam perjuangan pada jalanMU ya Rabb... Ya ALLAH, kabulkanlah do'aku ini... Amin...

Alhamdulillah...

Minggu, 25 Januari 2009

Renunganku... Sebuah Perjuangan Tiada Berhenti

Bissmillah

Sebagai seorang manusia biasa, sering aku merasakan sesak berkepanjangan. Karena sebuah putusan yang sangat menyengat hati, mendidihkan air darah di tubuh ini, mengkeruhkan otak pada alam pikiranku. Ingin aku protes sejadi-jadinya. Namun, kepada siapa aku harus layangkan protes ini? Kepada siapa aku harus mengadukan hal ini?

Kadang aku merasakan kerja kerasku tak dihargai sepeser pun. Usaha dan jerih payahku, kadang hanya mendatangkan penolakkan, karena sebuah arogansi kepemimpinan semata. Aku memang bukan siapa-siapa, bahkan belum memberikan warna sedikit pun pada negeri, alam dan jagat raya ini. Yang aku miliki hanyalah sebuah pegangan dan keyakinan yang kuat terhadap ALLAH azza wa jalla.

Kuulangi untuk kedua dan ketiga kali. Imbas yang kuterima tidaklah jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Sebuah penolakan, sebuah “tiada pengharggaan”. Sekali lagi aku hanya bisa menunduk, aku hanya bisa menahan sekuat tenaga air mata yang kadang sepertinya ingin mengalir deras ke luar dari kelopak mataku.

Menegakkan kebenaran, tidaklah semudah yang aku kira dan aku bayangkan. Menegakkan kebenaran, di dalam sebuah sistem yang “tidak benar”, terlihat seperti seorang bodoh tanpa otak, seperti seorang aneh tanpa akal, seperti seorang gila, yang kadang ditertawakan orang lain, dicemoohkan atau malah dijauhi dan dimusuhi. Bahkan ada sebagian orang yang berujar, untuk apa aku jauh-jauh berpikir, pikirkan saja diriku ini... Aku tidak menanggapinya. Aku hanya terdiam, karena dengan aku mendebatnya, debat kusir karena perbedaan visi, misi dan rujukkan, kadang akan terjadi. Dan itu terlalu banyak energi yang harus aku keluarkan.

Aku telah mencoba untuk menghalau semua jenis perasaan ini, namun sesering itulah aku menghalaunya, sesering itu pula perasaan itu muncul kembali di hati kecilku ini. Hanya orang-orang sevisi dan semisi yang selalu membangkitkanku. Hanya orang-orang yang satu barisan dan satu shaf lah yang selalu men-support perjuanganku dan bahkan menjagaku. Terima kasih ya ALLAH...

Aku kadang teringat, ketika Rasulullah dan para sahabatnya dicemoohkan, dilempari kotoran, diinjak-injak harga diri dan agamanya. Padahal kita tahu, bahwa itu semua adalah sebuah perjuangan atas kebenaran. Tapi pengetahuan kita akan kebenaran itu terjadi pada saat sekarang, bagaimana jika kita hidup di jaman Rasul. Jangan-jangan kita termasuk orang yang bersebrangan dengan beliau, yang memaki-maki beliau, yang melempari beliau, yang menghujat beliau, Naudzubillah min dzalik...

Aku yakin, bahwa perjuangan adalah pilihan. Menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai degan hujjah yang murni adalah sebuah pilihan. Pilihan, apakah kita mau untuk dihujat. Pilihan, apakah kita mau dan tahan untuk ditinggalkan. Pilihan, apakah kita kuat untuk dikucilkan di lingkungan kita. Sebuah pilihan yang sulit, karena iman dan ketakwaan terlalu bernilai untuk di bandingkan dengan apa pun. Pastilah pilihan ini adalah sesuatu yang sangat sulit.

Kutetapkan hatiku kembali. Kubakar semangatku kembali. Kukobarkan api perjuanganku kembali. Aku sangat tidak peduli, bahkan akan lebih sangat tidak peduli. Apakah kerjaku akan dihargai atau tidak, apakah perjuanganku akan dicaci maki atau tidak, bahkan aku sekarang sudah tidak ambil pusing, apakah aku dikucilkan dari sistem ini atau tidak. Yang aku lakukan adalah, karena ALLAH, untuk ALLAH dan demi ALLAH, aku akan tetap memperjuangkannya. Karena peradaban Islam harus berdiri tegak di muka bumi ini. Karena kebahagiaan yang ALLAH janjikan, tidaklah melulu merupakan kebahagiaan di akhirat, namun juga di dunia ini.

Ya ALLAH, bantulah aku menyeka air mataku ini. Bantulah aku membulatkan tekad, menguatkan perjuangan dan mentapkan visi dan misiku ini. Walau pun hanya ada satu orang yang berjuang di jalanMU ya ALLAH, aku yakin, bahwa itu adalah aku. Aku ikhlas ya ALLAH untuk tidak dihargai orang lain. Aku ikhlas ya Rabb untuk selalu ditolak karena sebuah itikad baikku dianggap menyimpang oleh orang lain. Bahkan aku Ikhlas karenaMU, karena hanya ridhoMU lah yang aku dambakan. Tetap curahkanlah kasih sayangMU padaku, tetap limpahkanlah rezeki untuk bekal perjuanganku, dan tetap liputilah aku dengan ilmu dan hikmahMU, agar aku tetap berpegang kepada tali kebenaranMU yang murni dan ENGKAU ridhoi. Amin...

Alhamdulillah

Senin, 05 Januari 2009

Cikal Bakal kebangkitan peradaban Islam kah?

Bissmillah…
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ….” [Al-Ma’idah: 82]

Perasaanku mungkin sama denganmu, mungkin juga berbeda, haru biru tak menentu. Detak jangtung, dan dentuman nafasku, mungkin sama denganmu, mungkin juga berbeda, menggelegar, berguncang dan membahana. Ketika mendengar, melihat, membaca dan menyaksikan rentetan peluru, dentuman bom misil yang dilancarkan pesawat perang israel terhadap saudara-saudaraku di Palestina.

Semangat jihadku pun mengelora, memuncah keluar, ketika ratusan, ribuan, bahkan jutaan umat Islam seluruh dunia, tumpah ruah kejalanan. Berorasi, menghujat, bahkan dengan gagah berani membakar atribut-atribut israel. Membuktikan bahwa roh semangat keislaman itu masih ada. Roh kebersamaan dalam sebuah misi perjuangan tetap berkibar dan bergelora.

Belum lagi, semangat para pelaku kemanusiaan, ormas-ormas Islam, bersatu padu, berangkulan, berpegangan tangan, mengumpulkan satu dua rupiah, untuk bisa dikirim ke saudaraku yang membutuhkan dalam bentuk obat-obatan, vitamin, perlengkapan medis dan makanan, membuatku masih bisa menarik napas panjang, untuk mengumpulkannya di ruang dan rongga dada ini, dalam rangkan tetap menjaga semangat fisabilillahku.

Aku merenung, apakah ini semua yang dibutuhkan oleh umat Islam, saudara kita, di Palestina sana? Apakah ini pun yang dibutuhkan oleh Islam sebagai sebuah perjuangan untuk dijadikan cikal bakal, titik awal kebangkitan peradaban Islam? Apakah hanya ini pula yang aku bisa berikan kepada Islam, sebagai manifestasi implementasi rasa syukurku kepada ALLAH? Jangan-jangan bukan, bukan hanya itu.

Pikiranku tetap menerawang. Kondisi umat Islam sekarang telah terkotak-kotakan. Banyaknya partai, beragamnya jas yang dipakai, beranekanya topi dan emblem yang dikenakan, menyebabkan Islam benar-benar terkotak-kotakan. Jelas-jelas ALLAH telah menunjukkan kelompok mana yang benar-benar teroris, kita umat Islam tidak dapat berbuat banyak. Jelas-jelas kenyataan menunjukkan kelompok mana yang benar-benar sebagai penjahat perang, umat islam seluruh dunia tetap bergeming. Kemana aku? Kemana kita? Kemana umat Islam seluruhnya? (Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ….” [Al-Ma’idah: 82]).

Saudaraku. Mungkin ini jalan yang ALLAH tunjukkan kepada kita, bahwa kita harus berbuat sesuatu untukNYA, untuk Islam. Betul… Betul sekali, bahwa Islam tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Benar sekali, bahwa Islam akan tetap berdiri kokoh sampai akhir jaman. Namun tidak ada jaminan sedikit pun, bahwa Islam akan tetap ada di Palestina, tidak ada jaminan apa pun, bahwa Islam akan tetap berdiri tegak di bumi pertiwi ini, jangan-jangan… Naudzubillah Min Dzalik…

Saudaraku. Mungkin ini waktunya kita membuang atribut-atribut kepartaian kita. Mungkin sudah saatnya kita mencopot topi golongan kita, emblem favorit kita, menanggalkan jas berwarna kita, bahkan meninggalkan jauh-jauh ego dan arogansi kita, untuk kita juga, untuk Islam dan perjuangan ini. Mungkin ini saatnya kita untuk mulai meng-embargo, memboikot produk-produk mereka, yang berbau modern dan fast food tersebut, dengan cara kembali lagi mengkonsumsi produk lokal dan produksi anak bangsa kita sendiri. Semoga, ini menjadi awal dan cikal bakal kebangkitan Islam, kebangkitan sebuah peradaban yang ALLAH ridhoi. Amin… Alhamdulillah…

Kamis, 11 Desember 2008

Renunganku... Tentang Langkah Malam Hari

Bismillah...
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)" (Asy-Syams: 1-7).

Kutelusuri pinggir jalan raya kota ini, kota harapan nan penuh kenangan. Kujejaki tapak trotoar yang tertata tidak rapih, menunjukkan pemerintah daerah ini tidak peduli akan kerapihan kotanya. Kuhirup udara dini hari ini, dingin, basah, meraksuk sukma, menusuk tulang dan nadi. kupandangi 3 anak kecil berpadu padan dalam mimpinya, beralaskan koran robek, di atas dipan papan kayu bekas meja penjual nasi uduk, mencerminkan kegetiran hati, akan makna tanggung jawab yang hampir nol besar dari para pemimpin bangsa ini.

Kududuk di teras sebuah toko yang telah tutup, kupandangi jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan ini. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Waktu dimana seharusnya badan lemah ini terbaring di atas tempat istirahat sebagai upaya mempersiapkan berkehidupan esok hari. Waktu dimana orang-orang negeri ini sedang terangan dibuai mimpi indah nan hijau. Kutengadahkan kepala, satu, dua, tiga bintang yang nampak. Langit malam terlihat hitam pekat, walaupun sinar bulan purnama membiaskan mendung awan hitam, yang menunjukkan tanggal 14 pertengahan bulan Djulhijah tahun ini, tidaklah bermakna akan kegelapan kota ini.

Perutku terasa perih, namun tidak seperih dan sepanjang yang dirasakan para janda tua yang tengah pulas tertidur pada gumpalan kain sarung robek tak bernada. Aku hanya bersyukur, ALLAH masih memberikan aku rasa, untuk merasakan penderitaan. Lapar yang kurasa bukanlah sesuatu yang bernilai. Ini hanyalah sebuah sanggahan akan kekuatan yang kadang teragungkan oleh diri tak sempurna ini.

Malam ini kepalaku penuh sesak. Pikiranku melayang tak karuan. Penat tak terperi. Kuberanjak dari dudukku. Kuayunkan lagi kaki ini, menelusuri trotoar jalan yang hampir sepi tak berpenghuni. Entah sampai kapan langkah ini akan terus menapaki, mungkin sampai kaki ini berhenti mengayunkan langkah tak pasti, karena ALLAH berkehendak...

Alhamdulillah...

Senin, 08 Desember 2008

Renunganku… Tentang Kurban

Bissmillah…
Barang siapa yang mempunyai kelapangan, namun tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Ketika ALLAH memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, ada pergulatan bathin yang teramat dalam di sanubari seorang Ibrahim. Ada sebuah peperangan aras filosofi dan mind set yang terjadi di dalam otak beliau. Sebagai Nabi dan sekaligus orang biasa, beliau mengalami hal yang sangat luar biasa rumit, sangat luar biasa membuat otaknya berpikir keras. Otak kita tidak akan sanggup untuk mengukur makna logis dari perintah “Menyembelih putranya sendiri”. Otak kita tidak akan mungkin bisa sampai memikirkan makna eksplisit yang tersirat dari perintah “memotong leher anaknya sendiri”.

Aku pun lantas merenung. Bukan… Bukan merenungi “Bagaimana jika perintah itu terjadi padaku”, bukan… bukan itu. aku merenungi satu hal, jika saja keimanan Nabi Ibrahim pada waktu itu, tidak sampai kepada tingkat tertinggi, mungkin perintah Kurban tidak akan pernah sampai kepada kita.

Kurban merupakan level nilai keikhlasan kita terhadap ALLAH. Yang mana merupakan feed back positif terhadap nilai keikhlasan ALLAH terhadap kita. ALLAH ikhlas kita menjadi mahasiswa atau mahasiswi, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang pegawai professional, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang dosen, ALLAH ikhlas menjadikan kita sehat wal afiat, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang bapak atau ibu, untuk anak-anak mungil kita, ALLAH ikhlas memberikan kita Hape merek terbaru, mobil keluaran teranyar, motor tertrendi dan masih ada jutaan keikhlasan ALLAH yang lain yang telah kita rasakan untuk kita nikmati. Namun, ALLAH hanya menuntut sebuah keikhlasan kecil untuk kita dapat dan mau menyembelih hewan kurban yang secara nilai material tidak sebanding dengan harga sebuah Hape, Laptop atau bahkan makan sehari-hari kita. Ikhlaskanlah itu, sebagai bukti implementasi rasa syukur kita kepada ALLAH azza wa jalla. Jika persyaratan kurban, hanya berlaku bagi orang yang mampu (memiliki kelapangan), maka jika kita analisis sedikit, melihat fakta-fakta di atas, aku pikir, setiap kita (minimal yang membaca artikel ini) mampu untuk berkurban.

Kurban adalah merupakan usaha kita menyembelih sifat-sifat kebinatangan (hewaniah) yang ada pada diri kita. Lapar, haus, ketamakan, egoisme yang berlebihan, mau menang sendiri, rakus akan harta dan jabatan, sombong, angkuh, kikir, takabur, dan masih ada jutaan lagi sifat kebinatangan yang ada pada hati dan otak kita, bahkan telah tercermin pada implementasi kehidupan keseharian kita. ALLAHUAKBAR. Apakah nilai-nilai indah keikhlasan ALLAH kepada kita, harus dibalas dengan nilai-nilai buruk kebinatangan kita? Sembelihlah itu, hilangkan itu dari tubuh dan diri kita. Sembelihlah kebinatangan itu, sehingga kita akan menjadi orang yang ditulis oleh ALLAH sebagai orang yang bersyukur.

Kurban berarti pemerataan perekonomian rakyat. Ketika kurban, pemerataan perekonomian diharapkan akan terjadi. Ada trilyunan rupiah yang akan berputar di level perekonomian rakyat selama tiga hari yang dijadikan hari kurban. Para peternak, para intermediary (distributor dan marketingnya), pada retailer-nya, para pengelola hewan kurban, para penyembelih hewan kurban, parusahan pengalengan hewaan kurban, perusahaan penyamakan kulit, Jika saja pemerintah negara ini sedikit mau bijak dalam menggunakan moment hari kurban ini, harusnya mereka membiarkan perputaran ratusa trilyun pada 3 hari ini terjadi di level pasar tradisional dan para pelaku pasar tradisional, berikan sedikit intervensi pada perusahaan raksasa untuk tidak me-monopoli proses pasar yang terjadi sesaat. Insya ALLAH, efek 3 hari berkurban akan menjadi momen kebangkitan bangsa Indonesia.

Semoga, tiga hari ini bisa dijadikan olehku, anda, kita semua menjadi hari yang agung, sebagai bukti keikhlasan kita terhadap ALLAH, bukti penyembelihan sifat kehewanan dan kebinatangan serta sebagai bukti sokongan kita terhadap kebangkitan perekonomian rakyat yang islami dan jauh dari riba. Amin…

Alhamdulillah…

Selasa, 02 Desember 2008

Renunganku… Tentang “Kampus Mereka” (Mereka?)

Bissmillah…
Intro: Ini bukan cerita mengenai kampusku, bukan pula cerita mengenai kampusmu, namun merupakan sebuah cerita mengenai kampus mereka (mereka?).

Hatiku bersedih, namun aku harus tetap tegar menghadapi tantangan ini. Air mataku berlinang, namun harus terus kuseka, sehingga tidak menghalangi pandanganku di dalam melihat putihnya perjuangan ini. Tubuhku bergetar, bukan… bukan karena penyakit parkinson, namun karena aku membayangkan keadaan sebuah kampus yang carut-marut. Sungguh luar biasa. Bukan kampusku, bukan pula kampusmu, tetapi ini semua tentang kampus mereka, yang ada di negeri tercinta ini, Indonesia.

Aku pikir kampus adalah tempatnya para kaum intelektual, kaum yang memiliki wawasan positif dan berhati mulia. Aku pikir kampus adalah tempat untuk dijadikan contoh sebuah beradaban Islam yang agung. Aku bahkan sempat membayangkan, kampus adalah manifestasi, bahwa islam bukanlah sebuah aktivitas ibadah ritual semata, namun merupakan sebuah tatanan peradaban dan berkehidupan umat pilihan ALLAH SWT. Namun, pandanganku akan kampus adalah salah. Pandanganku akan institusi pendidikan sebagai pencetak generasi penerus dan pemimpin bangsa di masa yang akan datang ini, 100% salah adanya.

Aku melihat kampus tempat yang asri di pagi hari, karena para staff cleaning service-nya bahu-membahu membersihkan setiap jengkal pekarangan kampus dari sampah dan kotoran tangan-tangan jahil yang membuatnya. Aku melihat kampus adalah sebuah bangunan mentereng dengan infrastruktur dan gedung yang menyamankan mata dan penglihatan. Aku pun melihat para mahasiswanya, para mahasiswinya, berdandan necis, bergaya masa kini, terlihat tampan dan cantik mempesona.

Namun keadaan itu seratus delapan puluh derajat berbalik haluan. Jalan-jalan dan taman-taman yang indah dan bersih di pagi hari, berubah menjadi semrawut dan kumuh di siang dan sore hari, karena sampah yang berserakan dimana-mana, padahal tong sampah terlihat masih kosong melompong. Padahal pula, sebuah pribahasa mengatakan, an-nazhaafatu minal iimaan, kebersihan adalah sebagian dari iman. Bahkan di dalam Al-Qur’an telah tersuratkan dengan jelas “Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Begitu juga di dalam sebuah hadis, Rasulullah yang mulia telah menyatakan jauh-jauh hari, bahwa, ”Sesungguhnya ALLAH Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi” (HR. Tirmidzi).

Mahasiswa dan mahasiswi (termasuk dosennya juga) yang nampak tampan dan cantik, pun, ternyata menyiratkan keraguan akan masa depan bangsa ini, menyiratkan kekhawatiran yang sangat luar biasa akan kelanggengan bangsa ini. Mereka, walaupun tidak semuanya…, banyak yang menghisap batang “laknat” (baca: rokok) tanpa rasa berdosa dimana-mana, bahkan di lingkungan kampus yang di sampingnya tertulis larangan merokok (lihat NB dalil tentang rokok di bawah). Mereka lupa, atau tidak tahu (atau bahkan pura-pura tidak tahu), bahwa rokok bukan semata gaya hidup, rokok bukan semata life style, lebih dari itu, rokok adalah ancaman kesehatan, rokok adalah ancaman disintegrasi moral, rokok pun adalah ancaman pembunuhan karakter muslim, ancaman politik, ancaman ideologi, bahkan lebih ekstrim lagi, rokok merupakan sebuah ancaman kehidupan dan berkehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Mungkin pula karena asap dan racun rokok (selain racun dogma sekuler) ini yang telah meraksuk pembuluh nadi dan otak para mahasiswa, mereka pun lagi-lagi berulah, mereka melegalkan aktivitas yang bernama “menyontek”, mereka telah membudidayakan budaya yang bernama “menyontek”, dengan alasan yang sangat kerdil, yaitu karena alasan nilai kelulusan untuk setiap matakuliah yang mereka ambil (lihat NB dalil tentang menyontek di bawah). Padahal tujuan kuliah bukanlah sekedar nilai, kelulusan atau pun dapat mencari kerja dengan mudah, namun harus lebih dari itu. Seharusnya kita kuliah dalam rangka beribadah, implementasi rasa syukur kepada ALLAH dan tentu mencari keridoan-NYA sebagai tujuan dari segala tujuan kehidupan fana nan sekejap ini. Padalah pula, tidak akan pernah ada sebuah keberhasilan yang dilakukan dari hasil sebuah kecurangan, apalagi kecurangan tersebut sudah menjadi budaya. Yang ada hanyalah sebuah Multi Level Dosa, dosa yang terus melekat sepanjang hayat, karena “menyontek” merupakan sebuah “korupsi persepsi” akan sebuah barometer keberhasilan dari seorang guru atau dosen yang memberikan grade kelulusan sebagai sebuah result dari proses belajar mengajar di sebuah institusi pendidikan. Mungkin dan bisa jadi, praktek “menyontek” merupakan darah dan daging yang haram, yang menjadikan budaya “korupsi” negeri ini semakin merajalela.

Di sisi lain pun sama, di balik gedung kampus yang megah dan mentereng, aroma praktek kolusi, korupsi, kecurangan dan menghalalkan berbagai macam cara, baik yang dilakukan oleh para dosen, mahasiswa/i dan karyawanya, tercium sangat santer oleh hidung ini. Manipulasi angka, praktek ABS (Asal Bapak Senang) dan implementasi loyalitas yang salah, merupakan sebuah ciri yang khas dari sebuah praktek pendidikan di sebuah kampus negeri ini.

Bagaimana bangsa ini bisa keluar dari permasalahan besar, bagaimana bangsa ini bisa menata tatanan kehidupan yang islami, sedangkan sistem kecil saja, yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan pun keruh dan tidak indah. Bahkan seperti menantang ALLAH untuk memuntahkan amarahNYA saja. Naudzubillah min dzalik

Apakah ini adalah gambaran kampusku? ataukah ini merupakan gambaran kampusmu? Bukan (harapanku)… Ini bukan cerita mengenai kampusku, bukan pula cerita mengenai gambaran kampusmu, ini merupakan cerita, sebuah renungan, mengenai gambaran kampus mereka (mereka?).

Alhamdulillah…

NB:
Dalil tentang rokok
Dan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan “ (QS. Al Baqarah [2]: 195)

Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..” (QS. An Nisa [4]: 29)
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra [17]: 27)
Di antara baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. Imam At Tirmidzi)
Barangsiapa yang memudharatkan (merusak) seorang muslim yang lain, maka Allah akan memudharatkannya, barang siapa yang menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkan orang itu” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Dalil tentang menyontek
"Barang siapa yang memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian darinya, dan barang siapa yang memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, maka dia akan memikul bagian darinya, ALLAH maha kuasa atas segala sesuatu" (QS. An-Nisa [4]: 85)

Biasakanlah berkata benar, karena benar itu menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke syurga. Hendaknya seseorang itu selalu berkata benar dan berusaha agar selalu tetap benar, sehingga dicatat di sisi ALLAH sebagai orang yang shiddiq (amat benar). Dan berhati-hatilah dari dusta, karena dusta akan menuntun kita berbuat curang, dan kecurangan itu menuntun ke neraka. Seseorang yang selalu berlaku curang akan dicatat di sisi ALLAH sebagai pendusta" (HR Bukhari Muslim)

"Dusta adalah dosa besar ketiga setelah kesyirikan dan durhaka kepada kedua orang tua" (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidaklah masuk surga darah yang mengalir dan daging yang tumbuh dari sesuatu yang tidak halal“ (HR.Bukhari – Muslim)

Selasa, 11 November 2008

Renunganku… Tentang seorang pemimpin

Bissmillah…

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 3408)

Ku terduduk di serambi masjid raya kota Bogor, selepas Isya sepulang dari pekerjaanku hari ini. Lelah terasa, lemah ku tak terkira, tetapi Insya ALLAH itu tidak akan pernah aku keluhkan, walau pun kadang itu sering terucap dari mulutku yang tak terjaga ini. Seharusnya bukan keluhan yang aku ucapkan, tetapi syukur yang seharusnya aku kumandangkan, karena, disadari atau tidak, hari ini aku masih memiliki pekerjaan. Entah esok, entah lusa, pekerjaan itu akan diambil oleh yang empunya, ALLAH azza wa jalla

Angin tertiup pelan, dingin menusuk jantung dan tulang sumsumku. Bulan setengah jalan, malu untuk menunjukkan jati dirinya, tertutup awan hitam pekat, tanda hujan lembut akan tumpah ruah. Kupandangi poster, spanduk dan atribut-atribut partai politik yang akan bertarung di pemilu yang akan datang, lengkap dengan photo calon legislatif dan calon presidennya. Jargon-jargon dan janji-janji pun terpampang jelas, padahal janji adalah hutang yang harus dibayarkan.

Tak habis pikir akal ini menerawang dan membahana ke angkasa luas. ‘Apa ya yang mereka cari?’, aku bergumam. Aku Cuma ber-khusnudzon, berprasangka baik, saja, bahwa mereka calon-calon anggota legislatif dan pemimpin bangsa ini, mencalonkan atau dicalonkan untuk menjadi calon anggota legislatif dan calon presiden beranjak dari hati yang amat murni, untuk memperjuangkan rakyat dan bangsa ini, bukan memperjuangkan partainya, bukan keluarganya, bukan ego dan cita-citanya semata. Karena, percaya atau tidak, sadar atau tidak, seorang pemimpin merupakan ‘Pemimpin Kehidupan’ umat atau orang yang dipimpinnya, baik kemaslahatan dunia maupun akhirat.

Pemimpin adalah panutan orang atau umat yang dipimpinnya. Pemimpin adalah contoh baik umatnya dan bertanggung jawab atas segala hal mengenai apa yang dipimpinnya. Pemimpin adalah seseorang yang harus dicintai dan mencintai rakyatnya, bukan kedudukannya. Pemimpin adalah orang yang mampu dan mau tidur beralaskan tikar, ketika ada rakyatnya yang hanya tidur beralaskan koran bolong, agar bisa merasakan dinginnya malam dan tusukan angin jahat kehidupan. Pemimpin adalah orang yang mau berdesakan duduk di angkot dan metromini, dengan kepulan asap rokok orang-orang yang tak berotak, agar mampu dan bisa merasakan bahwa rokok adalah sebuah permasalahan bangsa yang dipimpinnya. Pemimpin adalah orang yang mau bermacet-macetan, berbarengan dengan kaum marjinal pergi untuk dan pulang dari bekerja, agar bisa merasakan dan memiliki sense of problem solving, bahwa macet adalah permasalahan kota-kota besar di negara yang dipimpinnya. Pemimpin adalah orang yang mau dan siap berjalan di trotoar tanpa pengawalan ketat dan scenario berlebihan, sehingga dia mampu melihat dengan kepala matanya sendiri, bukan kepala mata orang-orang yang berucap ABS (Asal Bapak Senang), bahwa sampah di negara yang cenderung kotor ini adalah permasalahan bangsa.

Pemimpin adalah Imam bagi sholat berjamaahnya. Pemimpin adalah seorang petani bagi rakyat taninya. Pemimpin adalah prajurit pertahanan, bagi keutuhan negaranya. Pemimpin adalah buruh bari rakyat pekerjanya. Pemimpin adalah seorang pakar ekonomi, sehingga kebijakan ekonomi negaranya tidak salah kaprah. Pemimpin adalah negotiator ulung, sehingga tidak dibohongi dalam perjanjian antar negara. Pemimpin adalah orang yang FAST (Fatonah = cerdas, Amanah = dapat dipercaya, Sidiq = benar dan Tabligh = menyampaikan). Dan masih ada ribuan bahkan ratusan ribu atau jutaan fenomena yang harus dirasakan dan dikecap oleh pemimpin bangsa ini. sehingga, kehidupanlah yang dia pimpin, bukan birokrasi, bukan prosedur, bukan pemerintah atau jabatan saja. Sehingga pula, seluruh umat yang dipimpin merasakan ketenangan dalam melakukan apa pun, dan berbondong-bondong menuju kebahagaian dunia dan akhirat.

Tidak ada idola lain yang harus ditiru dan dibentuk, tidak musti melihat idola lain untuk diikuti titah, perilaku dan ide-idenya, cukuplah Rasul dan para sahabatlah sebagai idola para pemimin bangsa ini, karena lewat ide mereka, program kerja mereka bahkan lewat jenis alur birokrasi yang mereka kerjakanlah, Islam mengalami kejayaan yang hakiki. Dimana, tidak bisa dipungkiri lagi, ketika Islam jaya, di situlah semua orang dan elemen kehidupan akan merasakan ketentraman, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.

Ku beranjak dari dudukku, karena angin kota bogor cukup tajam menusuk tulang-tulang sekujur tubuhku ini, jaket tebalku pun tidak sanggup untuk menghalaunya. Aku hanya berharap dan berharap, serta berusaha sesuai dengan batasan yang aku miliki, untuk ALLAH Tuhanku, kejayaan Islamku, perbaikan kehidupan saudaraku, dan kebangkitan bangsa dan negaraku, Indonesia…

Alhamdulillah…